Uncategorized

Amsal Tumbuhnya Danau, di Sepiku

diam-diam aku mengejarmu lewat bau amis dan jejak kaki yang kecil itu. jalanan basah—katamu—adalah peringatan tahun-tahun yang sunyi di dada seorang lelaki. tidak ada perumpamaan untuk kematian. tembok-tembok kayu yang mulai disiangi angin dan rayap, seng-seng merah yang diintimi matahari setiap hari, jendela berabu dan gorden putih, hanya kejadian yang disengaja.
 
suatu ketika, kalau kau sudah tak punya ruang untuk menjadi penyakit, datanglah di kepalaku yang dingin ini. banyak ruang kosong yang bisa kau tempati bahkan untuk bunuh diri. di antara neuron, berserakan darah-darah waktu yang telah lama menunggumu. kau mesti datang, sekali saja setelah berwindu-windu meninggalkanku.

S2013S

Iklan
Standar